Recent Articles
Jumat, 02 Agustus 2013
Jumat, 02 Agustus 2013
- 0 Comments
Masa remaja memang
masa yang penuh gaya, suka cita, dan hura-hura. Tak jarang mereka bertindak semau gue,
hanya memikirkan dirinya, tanpa peduli siapa di sekitarnya dan dari mana ia
mendapatkan modal untuk bergaya. Tak sadar, di balik penampilannya ada jerih
payah orang tua. Di balik arogansinya ada sebuah harapan besar ibu dan bapaknya
untuk masa depannya.
Tetapi apa mau dikata,
cita-cita itu seakan sirna ditelan masa karena apa yang menjadi harapan orang
tua tampaknya tidak terlaksana. Itulah gambaran remaja yang menjadi korban
propaganda musuh-musuh Islam untuk menyesatkan generasi remaja Islam, dengan dalih
kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia. Para remaja lebih memilih
kehidupan yang bebas tanpa batas daripada kehidupan yang dinaungi dengan
syariat, lebih memilih maksiat daripada shalat, lebih memilih hal-hal yang
mubazir daripada berzikir.
Itulah gambaran remaja
zaman sekarang, maka janganlah menjadi remaja yang banyak gaya, karena banyak
bergaya pasti akan banyak dosa apabila banyak dosa, maka tidak lain neraka
adalah tempatnya. Rasulullah saw bersabda,“Tidak akan
bergeser kaki seorang manusia dari sisi Allah, pada hari kiamat (nanti), sampai
dia ditanya (dimintai pertanggungan jawab) tentang lima (perkara): tentang
umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya digunakan untuk apa, hartanya
dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta bagaimana di mengamalkan
ilmunya” (HR At-Tirmidzi)
Perlu kita sadari bahwa
karena kemajuan teknologi yang tidak diimbangi dengan peningkatan keimanan
telah merusak moral kaum muslimin terutama oleh sebagian remaja di sekitar
kita. Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang mestinya menjadi pegangan telah
ditinggalkan oleh sebagian besar remaja saat ini, sebagai gantinya mereka
rame-rame menghadapkan wajah dan pikirannya kepada orang-orang barat yang pada
umumnya mereka adalah orang-orang kafir.
Agama Islam sangat
memberikan perhatian besar kepada upaya perbaikan mental para remaja. Karena
generasi muda hari ini adalah para pemeran utama di masa mendatang, dan mereka
adalah pondasi yang menopang masa depan umat ini. Oleh karena itulah, banyak
ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah saw yang mengingatkan kita untuk
senantiasa membina dan mengarahkan para remaja kepada kebaikan. Karena jika
mereka baik maka umat ini akan memiliki masa depan yang cerah, dan generasi tua
akan digantikan dengan generasi muda yang saleh.
Rasulullah saw
bersabda, “Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam
naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali
naungan-Nya: …Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada
Allah …”.
Hadits yang agung ini
menunjukkan betapa besarnya perhatian Islam terhadap hal-hal yang mendatangkan
kebaikan bagi seorang remaja muslim, sekaligus menjelaskan keutamaan besar bagi
seorang pemuda yang memiliki sifat yang disebutkan dalam hadits ini.
Maka tak ada waktu
lagi selain sekarang untuk mengubah kebiasaan lama yang bergelimang dosa
kita ganti dengan kebiasaan yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat serta
mengusahakan kebaikan bagi dirinya dan membiasakan diri untuk selalu menetapi
amal saleh dan ibadah kepada Allah Ta’ala, agar kita termasuk ke dalam golongan
orang-orang yang mendapatkan keutamaan dan kemuliaan besar dari Allah. Wallahu’alam.
Selasa, 30 Juli 2013
Selasa, 30 Juli 2013
- 0 Comments
Setiap sepuluh hari terakhir dibulan Ramadhan semua umat islam banyak yang menghabiskan waktunya untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, seiring akan berakhirnya bulan yang penuh ampunan ini, tetapi banyak pula dihari-hari terakhir bulan yang penuh berkah ini banyak dari umat Islam yang sibuk mencari keberkahan dibulan ini sibuk dengan perniagaan untuk kebutuhan ber'idul fitri, dua kegiatan yang sama-sama bisa dikaitkan sebagai ibadah, yang pertama ibadah 'itikaf kemudian yang kedua adalah mencari ma'isah untuk menghidupi keluarga dan persipan untuk berhari raya, tetapi sebagai seorang mukmin yang pintar, kita harus bisa memilih salah satu dari dua ibadah itu, dengan skala prioritas, bilapun harus sibuk dengan perniagaan dunia pada pagi dan siang harinya, maka kita harus menghidupkan malam-malam disepuluh terakhir bulan ramadhan ini untuk senantiasamendekatkan diri kepada Allah, banyak hadits-hadits dari Rasulullah yang menceritakan ibadah beliau disepuluh terkhir dibulan ramadhan tidak lain dan itdak bukan adalah ber'itikaf dimasjid, sebagai muslim yang cerdas seharusnya kita sudah mempersiapkan segala apa yang dibutuhkan untuk melaksanakan sunnah nabi ini,dari bekerja keras untuk bisa beri'tikaf hingga bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga untuk berhari raya. semoga kita dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dan dimudahkan segala urusan kita.Walahu'alam..
22 Ramadhan 1434 H. from Masjid At-Taqwa
Senin, 04 Maret 2013
Senin, 04 Maret 2013
- 0 Comments
Rasulullah saw pernah berpesan kepada kita dalam salah satu hadits: “Aku perintahkan kalian lima hal yang Allah telah perintahkan aku dengannya: Mendengar dan taat, jihad, hijrah dan jamaah.”(HR.
Ahmad dan Tirmidzi). Kelima hal ini tidak dapat dipisahkan, semuanya
saling berkaitan dan melengkapi. Suatu ketaatan pasti didahului dengan
mendengarkan suatu perintah atau larangan, taat dalam melaksanakan suatu
perintah ataupun taat dalam meninggalkan larangan-larangan Allah.
Begitu pun antara jihad, hijrah dan
jamaah. Tidak ada jihad tanpa hijrah dan jamaah. Kalau kita lihat
perjalanan Rasulullah dalam dakwahnya Beliau berhijrah dari Mekkah ke
Yastrib, yang kemudian nama Yastrib diganti dengan Madinah yang berarti
“kota”, atau “tempat berlakunya tuntunan agama” atau “tempat
peradaban”. Di sanalah Rasulullah saw menyusun kekuatan masyarakat Islam
atau jamaah, yang dimulai dengan mempersaudarakan antara kaum Muhajirin
dan Anshar, sampai pada pembangunan Masjid Nabawi sebagai pusat dakwah
dan ibadah. Semuanya dilakukan untuk membangun kekuatan, baik kekuatan
akidah maupun fisik untuk persiapan jihad melawan orang-orang yang
menghalang-halangi dakwah Islam.
Bila kita lihat realita hari ini, banyak
orang mengabaikan syariat hijrah ini. Mereka menganggap hijrah pada
zaman ini sudah tidak ada lagi. Hijrah sudah tak perlu dilakukan,
menurut mereka, padahal Rasulullah pernah bersabda, dalam riwayat dari
Abu Qirshafah ra, “Wahai manusia! Berhijrahlah kalian dan berpegang
teguhlah kepada Islam. Karena hijrah tidak akan pernah berhenti selama
jihad masih ada.” (H.R. Thabrani, Majma’uz-Zawa’id)
Rasulullah telah menegaskan bahwa Jihad
fi Sabilillah akan terus berlangsung sampai menjelang hari kiamat, yaitu
sampai masa bertiupnya angin lembut yang mewafatkan seluruh orang
mukmin setelah masa Imam Mahdi dan turunnya Isa as. Rasulullah bersabda “Pada ubun-ubun kuda perang senantiasa tertambat kebaikan sampai hari kiamat, yaitu pahala dan harta rampasan perang.” (HR Al-Bukhari, Kitabul Jihad)
Rasulullah juga menegaskan bahwa hijrah
senantiasa menyertai jihad. Karena jihad terus berlangsung sampai
menjelang hari kiamat, maka hijrah juga akan terus berlangsung sampai
menjelang hari kiamat. Sebagaimana sabda Nabi saw, “Sesungguhnya hijrah tidak akan pernah terputus selama masih ada jihad.” (HR Ahmad)
Keberlangsungan hijrah ini juga dikuatkan dalam sebuah hadits dari Mu’awiyah ra yang berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Hijrah tidak akan pernah terputus sampai taubat tidak diterima lagi, dan taubat tidak akan pernah terputus sampai matahari terbit dari tempat tenggelamnya (arah barat)” (HR Ahmad dan Abu Daud, Kitab Al-Jihad)
Keberlangsungan hijrah ini juga dikuatkan dalam sebuah hadits dari Mu’awiyah ra yang berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Hijrah tidak akan pernah terputus sampai taubat tidak diterima lagi, dan taubat tidak akan pernah terputus sampai matahari terbit dari tempat tenggelamnya (arah barat)” (HR Ahmad dan Abu Daud, Kitab Al-Jihad)
Naif rasanya bila ada sebagian kaum
muslimin menganggap hijrah pada zaman ini sudah tidak relevan lagi,
padahal begitu besar balasan dari Allah bagi siapa saja yang rela
meninggalkan tanah kelahirannya untuk melaksanakan syariat hijrah ini.
Tentunya hijrah dengan sebenar-benarnya dan dengan syarat-syarat yang
telah ditentukan dalam nash, baik Al-Qur’an maupun hadits. Allah
menjanjikan surga bagi orang yang berhijrah seperti disebutkan oleh
Rasulullah saw, “Sesungguhnya setan menghalang-halangi jalan masuk
Islam seraya berkata, ‘Kamu masuk Islam lalu meninggalkan agamamu dan
agama bapak juga kakekmu, maka ia mengabaikannya dan masuk Islam,
kemudian setan menghalang-halangi di jalan hijrah seraya berkata, kamu
hijrah lalu meninggalkan kampungmu, perumpamaan hijrah seperti
penunggang kuda sepanjang masa, lalu dia mengabaikannya dan berhijrah,
kemudian ia menghalang-halangi di jalan jihad seraya berkata, ‘Kamu
melawan keinginan dan mengorbankan hartamu, kemudian kamu berperang lalu
mati hingga istrimu dinikahi lagi dan hartamu dibagi-bagikan.’ Ia tidak
tergoda, lalu berjihad. Rasulullah saw kemudian bersabda, “Barang siapa
di antara kalian melakukan demikian, kemudian ia mati atau terbunuh,
tenggelam, jatuh dari kendaraan, Allah berkewajiban memasukannya ke
surga.” (HR Muslim). Wallahu’alam
Selasa, 14 Februari 2012
Selasa, 14 Februari 2012
- 0 Comments
Tokoh
dari Bani Salamah ini memiliki empat orang putra yang semua pemuda pemuda gagah
berani yang selalu siap siaga dalam setiap menyambut seruan jihad dari
Rasulullah SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM . ia merasa kecewa karena cacat kaki
yang menjadikan ia pincang menjadikan ia gagal meraih kemulian sebagai ahlul
Badar. Ia tidak bisa ikut perang Badar karena tidak lolos seleksi dari
Rasulullah SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM . Beliau SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM memberi rukhsoh kepada mereka yang cacat untuk
tidak ikut berangkat perang dan bisa digantikan oleh anggota keluarga lain
seperti anak laki laki yang cukup umur atau budak laki laki yang bisa
mengangkat senjata atau membawa perbekalan perang. Padahal ia telah menyiapakan
segala sesuatunya dengan matang untuk bisa melengkapi tiga ratus tiga belas
orang lainnya menuju medan Badar, tapi apa mau dikata Rasulullah SHALLALLAHU
ALAIHI WA SALLAM dengan tegas melarang
ia untuk keluar Madinah. Dan ia harus taat kepada Rasulullah SHALLALLAHU ALAIHI
WA SALLAM . sebagai gantinya maka anak anaknya adalah pemuda pemuda yang
menyumbang andil besar bagi kemenangan kaum muslimin di Badar. Orang tua yang
pincang itu adalah Amr bin Jamuh
Lain
Badar lain pula dengan Uhud. Semenjak tidak ikut dalam peperangan Badar.
Kesedihan selalu menghinggapi Amr bin Jamuh, ia telah bertekad untuk meraih
syahid di medan jihad. Ia akan merayu Rasulullah SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM dengan segala cara dan upaya untuk diijinkan
ikut berperang bila telah tiba seruan itu.
Kini
telah tiba berhembus aroma syurga dari Uhud dan seruan berperangpun telah
disampaikan kepada kaum muslimin. Amr bin Jamuh r.a lalu pergi menemui Nabi Shallallahu
Alaihi Wa Sallam memohon kepadanya agar
diijinkan turut berperang, ia berkata “Ya Rasulallah, putra-putraku bermaksud
hendak menghalangiku pergi berperang bersama anda. Demi Allah, aku amat
berharap kiranya dengan kepincanganku ini aku dapat merebut surga”·
Karena permintaannya yang amat sangat, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam memberinya ijin untuk turut. Maka diambilnya alat-alat senjatanya, dan dengan hati yang diliputi oleh rasa puas dan gembira, ia berjalan berjingkat-jingkat. Kemudian mari kita dengar doanya yang sangat masyhur sebagi salah satu ahli syahid medan Uhud, ia berdoa “Ya Allah, berilah aku kesempatan untuk menemui syahid, dan janganlah aku dikembalikan kepada keluargaku!”
Karena permintaannya yang amat sangat, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam memberinya ijin untuk turut. Maka diambilnya alat-alat senjatanya, dan dengan hati yang diliputi oleh rasa puas dan gembira, ia berjalan berjingkat-jingkat. Kemudian mari kita dengar doanya yang sangat masyhur sebagi salah satu ahli syahid medan Uhud, ia berdoa “Ya Allah, berilah aku kesempatan untuk menemui syahid, dan janganlah aku dikembalikan kepada keluargaku!”
Allah
telah mengatur setiap urusan manusia. Demikian juga dengan dua pasukan yang
telah saling berhadapan di bawah bukit Uhud. Perang berkecamuk dengan sengit.
Teriknya matahari makin menambah peluh dan kelelahan diantara dua pasukan.
Pasukan kaum muslimin terus mendesak mundur pasukan Quraisy sebelum akhirnya
mereka dibuat terkejut oleh pasukan berkuda Khalid bin Walid yang waktu itu belum
masuk Islam berhasil menguasai Bukit Uhud yaitu tempat paling strategis untuk
menyerang musuh dengan anak panah. Pasukan kaum muslimin kehilangan ritme
perjuangan sehingga bisa didesak mundur.
Hal
itu tidak membuat Amr bin Jamuh bersama keempat putranya menyusut
keberaniannya, mereka maju ke depan menebaskan pedangnya kepada tentara penyeru
kesesatan dan pasukan syirik.
Di
tengah-tengah pertarungan yang hiruk pikuk itu Amr melompat , dan sekali lompat
pedangnya menyambar satu kepala dari kepala-kepala orang musyrik. Ia terus
melepaskan pukulan-pukulan pedangnya ke kiri ke kanan dengan tangan kanannya,
sambil menengok ke sekelilingnya, seolah-olah merrgharapkan kedatangan Malaikat
dengan secepatnya yang akan menemani dan mengawalnya masuk syurga.
Memang
ia telah memohon kepada Allah agar diberi syahid dan ia yakin bahwa Allah SWT
pastilah akan mengabulkannya. Dan ia rindu, amat rindu sekali untuk berjingkat
dengan kakinya yang pincang itu dalam surga, agar ahli surga itu sama
mengetahui bahwa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam itu tahu bagaimana caranya memilih shahabat
dan bagaimana pula mendidik dan menempa manusia.
Dan
apa yang ditunggu-tunggunya itu pun tibalah, suatu pukulan pedang yang
berkelebat menghantarkannya ke tempat paling indah yang selama ini ia impikan.
Pukulan itu begitu keras hingga ia tidak bisa bangun lagi dan melanjutkan
perjuangan karena ia kini akan melanjutkan perjalanan menuju syurga.
Dan
tatkala Kaum Muslimin memakamkan para syuhada mereka, Rasulullah SHALLALLAHU
ALAIHI WA SALLAM memerintahkan kepada
kaum muslimin tentang apa yang mesti dilakukan terhadap jasad Amr bin jamuh “
Perhatikanlah, kuburkanlah jasad Abdullah bin Amr bin Haram dan Amr bin Jamuh
di makam yang satu, karena selagi hidup mereka adalah dua orang shahabat yang
setia dan saling berkasih sayang”
Demikian
indah kehidupan Amr bin Jamuh. Dengan kaki pincang itu ia telah meraih puncak
kenikmatan di taman taman syurga..pasti anda semua tertarik kan??
Banyak orang menghendaki kesenangan di dunia dan akherat tapi mereka tidak mendapatkannya dan banyak pula manusia yang mengimpikan ketenangan hidup tapi tetap saja tak mancapainya. Sebenarnya masih banyak teori-teori klasik yang menerangkan hal tersebut tapi manusia banyak yang melalaikannya. Orang yang menginginkan sesuatu tanpa memenuhi tuntutannya adalah bagaikan bahtera yang berlayar didaratan , tak akan pernah maju. Bagaikan orang yang memimpikan bulan disiang bolong. Banyak pula manusia bertanya-tanya, “ Kapankah Alloh akan memberi petunjuk kepada kita padahal kita selalu membaca ayat “ Tunjukilah kami jalan yang lurus” pada setiap raka’at, tapi tak pernah kunjung datang petunjuk. Sebenarnya kalau kita mau menjalankan bahtera dilautan maka niscaya dia akan berlayar.
APAKAH JIWA ITU ?
Ulama sepakat tentang perselisihan jalan mereka, bahwa nafsu itu terpecah antara hati dan antara sampainya kepada Robnya, karena Alloh tidak akan masuk dan dan tidak akan sampai kepadaNya kecuali setelah mengikutinya dan meninggalkan yang diperselisihkannya dan yang menguntungkannya.
Manusia itu terbagi menjadi dua : “ Bagian yang dikuasai nafsunya maka akan menguasainya dan merusaknya dan akan tunduk dibawah perintahnya. Dan bagian yang mengusai nafsunya maka akan memaksa mereka untuk tunduk dibawah perintah mereka”.
Sebagian orang arif berkata: “Sampailah perjalanan seseorang kepada keberuntungan diri mereka, maka barang siapa yang beruntung beruntunglah ia, dan baranga siapa yang dikuasai nafsunya rugi dan celakalah ia”.
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Robnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surgalah tempat kembalinya”. ( An-Naziat 40-41 )
Sebagaimana Alloh telah nyatakan dalam Al-Qur’an bahwa pada hakekatnya jiwa itu selalu memerintahkan pada kejelekan kecuali yang dirahmati Alloh. Hal ini dinyatakan oleh Alloh dalam firmanNya :
“Dan aku tidak membebaskan diriku ( dari kesalahan ), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat Robbku.”
( QS Yusuf 53 ).
Ibnu Qoyyim berkata : “Bahwa memang tabiat jiwa itu selalu condong kepada hal-hal yang jelek”.
Dengan demikian An-Nafsu ( jiwa ) yang selalu memerintah pada kejelekan ini diartikan dibanyak tempat dengan hawa nafsu.
Ibnu Qoyyim Aljauziyah membagi macam-macam jiwa menjadi 3 macam :
1. Jiwa yang selalu menyuruh kejelekan ( Nafsu Amaroh bissu’).
“Dan aku tidak membebaskan diriku ( dari kesalahan ), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat Robbku.”( QS Yusuf 53 ).
2. Jiwa yang tercela yaitu jiwa yang selalu labil terkadang baik dan sebaliknya. ( Nafsu Lawwamah ).
“ Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali ( dirinya sendiri )”.
( Al-Qiyamah 2 )
3. Jiwa yang terbaik ialah jiwa yang tenang ( Nafsu Muthmainnah )
“ Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Robmu dengan hati yang puas lagi diridloi-Nya”. ( QS. Al-Fajr 27-28 )
( Tazkiyatu al-Nufus 69-74 )
JIWA YANG TENANG
Nafsu muthmainnah ialah jiwa yang selalu tenang bersama Alloh Robbnya dan selalu mengingat-Nya. Jiwa ini selalu rindu bertemu kekasihNya dan ingin selalu dekat disampingNya, jiwa yang berbentuk seperti inilah yang disebut dalam Al-Qur’an, dikatakan kepadanya ketika hendak berpisah dengan jasad :
“ Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Robbmu dalam keadaan ridlo dan diridloi”. ( QS Al-Fajr 27-28 )”
Orang yang memiliki jiwa tenang dia selalu merasa berkecukupan dengan apa yang Alloh rahmati padanya, tidak bersedih ketika sedikit rizkinya dan tidak bangga terhadap yang berlebihan. Ketika dia kesempitan selalau bersabar dan selalu beribadah kepada Alloh serta tidak disibukkan oleh dunia yang fana ini, bila lapang rizkinya dia bersyukur dan sibuk beramal dengan hartanya sehingga seakan tiada beda antara sempit dan lapang, baginya kedua-duanya adalah sama baiknya.
Jiwa yang tenang selalu menjaga kesucian hati dan tidak mau mengotorinya dengan penyakit-penyakit yang berakibat buruk bagi kehidupan setelahnya, Rosululloh bersabda :
“ Didalam tubuh itu ada segumpal darah, kalau baik maka baiklah seluruh tubuh dan jika jelek jeleklah seluruh tubuh itu, segumpal darah itulah yang dinamakan hati “ (HR Al-Bukhori Muslim dari Nu’man bin Basyir) ( al-Iman abdul Majid zandani 26 )
Hati bagaikan raja dan otak bagaikan perdana menteri. Apapun yang terbetik dalam hati seseorang maka akan dikerjakan oleh seluruh anggota tubuh dengan persetujuan otak, bahkan terkadang tubuh akan melakukan perintah hati walupun tidak masuk akal. Maka berhati-hatilah menjaga hati, apabila baik keinginannya baik pula akibatnya dan apabila jelek keinginannya jeleklah akibatnya.
Jagalah hati karena hati itu bisa berkarat bagaikan besi yang susah dibersihkan, adalah bagai kaca yang bisa pecah dan sulit disatukan kembali, bagaikan cermin yang apabila kotor sulit memantulkan cahaya. Maka ketika Imam Syafi’I melapor pada gurunya tentang keadaan dirinya yang sulit menghapal maka gurunya Waki’ bewasiat agar meninggalkan maksiat karena ilmu itu adalah cahaya Allah dan cahaya Allah tidak biberikan kepada orang yang bermaksiyat.
OBAT SAKIT HATI
Setelah kita tahu bahwa hati itu bisa sakit dan berkarat maka kita membutuhkan solusi (obat ) dari kerusakan hati, karena hati yang kita miliki hanya ada satu dan kalau sudah rusak sulit mengembalikannya tidak sebagaimana anggota tubuh lainnya, kecuali apabila siempunya sendiri yang mau berusaha dan dibantu orang lain. Dan inilah obat yang ditawarkan oleh para pendahulu kita :
1.Membaca Al-Qur’an
Dari Umar Ra berkata : Rosulullah saw bersabda “ Sesungguhnya hati ini bisa berkarat sebagaimana berkaratnya besi, Rosulullah kemudian ditanya : apakah obatnnya ? “ jawab beliau : Membaca Al-Qur’an ”
2. Berdzikir kepada Allah
Dari Al-Ma’la bin ziyad dia berkata : “Seorang lelaki berkata pada Al-Hasan : “Wahai Abu Said aku mengadu kepadamu tentang kerasnya hatiku, Al-Hasan menjawab “ Lunakkanlah dia dengan memperbanyak dzikir kepada Allah ”
3.Shoum, mengurangi makan serta sholat malam .
Ada seseorang yang mengadukan tentang kekerasan hatinya kepada Malik bin Dinar, maka dia menjawab : “ seringlah berpuasa ( shoum), apabila hati masih saja keras maka perbanyaklah melakukan sholat malam, dan jika masih saja hati tersebut keras maka jangalah banyak makan “.
4.Takut dan cemas
Dari Abdullah bin khobiq dia berkata : “ Allah menciptakan hati untuk tempat berdzikir , akan tetapi berubah fungsi menjadi tempat syahwat. Syahwat dalam hati tidak akan terhapus kecuali dengan rasa takut dan cemas kepada Allah atau rindu mendalam kepada-Nya”.
5. Membaca Al-Qur’an, mengosongkan perut, melakukan sholat malam, beribadah khusu’ pada waktu sahur dan duduk bersama orang-orang sholeh.
Al-Uzdy berkata : “ Aku telah mendengar Ibrohim bin al-Khowwash berkata obat untuk sakit hati itu ada lima macam : Membaca Al-Qur’an dengan merenungkan artinya, mengosongkan perut , melakukan sholat malam, beibadah khusu’ pada waktu sahur dan duduk bersama orang-orang sholeh”.
Referensi :
1. Dzammul Hawa’, Ibnu Qudamah
2. Tazkiyah Nafs, Ibnu Qoyyim-Ibnu Rojab al Hambali, Abi Hamid al Ghozali
APAKAH JIWA ITU ?
Ulama sepakat tentang perselisihan jalan mereka, bahwa nafsu itu terpecah antara hati dan antara sampainya kepada Robnya, karena Alloh tidak akan masuk dan dan tidak akan sampai kepadaNya kecuali setelah mengikutinya dan meninggalkan yang diperselisihkannya dan yang menguntungkannya.
Manusia itu terbagi menjadi dua : “ Bagian yang dikuasai nafsunya maka akan menguasainya dan merusaknya dan akan tunduk dibawah perintahnya. Dan bagian yang mengusai nafsunya maka akan memaksa mereka untuk tunduk dibawah perintah mereka”.
Sebagian orang arif berkata: “Sampailah perjalanan seseorang kepada keberuntungan diri mereka, maka barang siapa yang beruntung beruntunglah ia, dan baranga siapa yang dikuasai nafsunya rugi dan celakalah ia”.
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Robnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surgalah tempat kembalinya”. ( An-Naziat 40-41 )
Sebagaimana Alloh telah nyatakan dalam Al-Qur’an bahwa pada hakekatnya jiwa itu selalu memerintahkan pada kejelekan kecuali yang dirahmati Alloh. Hal ini dinyatakan oleh Alloh dalam firmanNya :
“Dan aku tidak membebaskan diriku ( dari kesalahan ), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat Robbku.”
( QS Yusuf 53 ).
Ibnu Qoyyim berkata : “Bahwa memang tabiat jiwa itu selalu condong kepada hal-hal yang jelek”.
Dengan demikian An-Nafsu ( jiwa ) yang selalu memerintah pada kejelekan ini diartikan dibanyak tempat dengan hawa nafsu.
Ibnu Qoyyim Aljauziyah membagi macam-macam jiwa menjadi 3 macam :
1. Jiwa yang selalu menyuruh kejelekan ( Nafsu Amaroh bissu’).
“Dan aku tidak membebaskan diriku ( dari kesalahan ), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat Robbku.”( QS Yusuf 53 ).
2. Jiwa yang tercela yaitu jiwa yang selalu labil terkadang baik dan sebaliknya. ( Nafsu Lawwamah ).
“ Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali ( dirinya sendiri )”.
( Al-Qiyamah 2 )
3. Jiwa yang terbaik ialah jiwa yang tenang ( Nafsu Muthmainnah )
“ Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Robmu dengan hati yang puas lagi diridloi-Nya”. ( QS. Al-Fajr 27-28 )
( Tazkiyatu al-Nufus 69-74 )
JIWA YANG TENANG
Nafsu muthmainnah ialah jiwa yang selalu tenang bersama Alloh Robbnya dan selalu mengingat-Nya. Jiwa ini selalu rindu bertemu kekasihNya dan ingin selalu dekat disampingNya, jiwa yang berbentuk seperti inilah yang disebut dalam Al-Qur’an, dikatakan kepadanya ketika hendak berpisah dengan jasad :
“ Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Robbmu dalam keadaan ridlo dan diridloi”. ( QS Al-Fajr 27-28 )”
Orang yang memiliki jiwa tenang dia selalu merasa berkecukupan dengan apa yang Alloh rahmati padanya, tidak bersedih ketika sedikit rizkinya dan tidak bangga terhadap yang berlebihan. Ketika dia kesempitan selalau bersabar dan selalu beribadah kepada Alloh serta tidak disibukkan oleh dunia yang fana ini, bila lapang rizkinya dia bersyukur dan sibuk beramal dengan hartanya sehingga seakan tiada beda antara sempit dan lapang, baginya kedua-duanya adalah sama baiknya.
Jiwa yang tenang selalu menjaga kesucian hati dan tidak mau mengotorinya dengan penyakit-penyakit yang berakibat buruk bagi kehidupan setelahnya, Rosululloh bersabda :
“ Didalam tubuh itu ada segumpal darah, kalau baik maka baiklah seluruh tubuh dan jika jelek jeleklah seluruh tubuh itu, segumpal darah itulah yang dinamakan hati “ (HR Al-Bukhori Muslim dari Nu’man bin Basyir) ( al-Iman abdul Majid zandani 26 )
Hati bagaikan raja dan otak bagaikan perdana menteri. Apapun yang terbetik dalam hati seseorang maka akan dikerjakan oleh seluruh anggota tubuh dengan persetujuan otak, bahkan terkadang tubuh akan melakukan perintah hati walupun tidak masuk akal. Maka berhati-hatilah menjaga hati, apabila baik keinginannya baik pula akibatnya dan apabila jelek keinginannya jeleklah akibatnya.
Jagalah hati karena hati itu bisa berkarat bagaikan besi yang susah dibersihkan, adalah bagai kaca yang bisa pecah dan sulit disatukan kembali, bagaikan cermin yang apabila kotor sulit memantulkan cahaya. Maka ketika Imam Syafi’I melapor pada gurunya tentang keadaan dirinya yang sulit menghapal maka gurunya Waki’ bewasiat agar meninggalkan maksiat karena ilmu itu adalah cahaya Allah dan cahaya Allah tidak biberikan kepada orang yang bermaksiyat.
OBAT SAKIT HATI
Setelah kita tahu bahwa hati itu bisa sakit dan berkarat maka kita membutuhkan solusi (obat ) dari kerusakan hati, karena hati yang kita miliki hanya ada satu dan kalau sudah rusak sulit mengembalikannya tidak sebagaimana anggota tubuh lainnya, kecuali apabila siempunya sendiri yang mau berusaha dan dibantu orang lain. Dan inilah obat yang ditawarkan oleh para pendahulu kita :
1.Membaca Al-Qur’an
Dari Umar Ra berkata : Rosulullah saw bersabda “ Sesungguhnya hati ini bisa berkarat sebagaimana berkaratnya besi, Rosulullah kemudian ditanya : apakah obatnnya ? “ jawab beliau : Membaca Al-Qur’an ”
2. Berdzikir kepada Allah
Dari Al-Ma’la bin ziyad dia berkata : “Seorang lelaki berkata pada Al-Hasan : “Wahai Abu Said aku mengadu kepadamu tentang kerasnya hatiku, Al-Hasan menjawab “ Lunakkanlah dia dengan memperbanyak dzikir kepada Allah ”
3.Shoum, mengurangi makan serta sholat malam .
Ada seseorang yang mengadukan tentang kekerasan hatinya kepada Malik bin Dinar, maka dia menjawab : “ seringlah berpuasa ( shoum), apabila hati masih saja keras maka perbanyaklah melakukan sholat malam, dan jika masih saja hati tersebut keras maka jangalah banyak makan “.
4.Takut dan cemas
Dari Abdullah bin khobiq dia berkata : “ Allah menciptakan hati untuk tempat berdzikir , akan tetapi berubah fungsi menjadi tempat syahwat. Syahwat dalam hati tidak akan terhapus kecuali dengan rasa takut dan cemas kepada Allah atau rindu mendalam kepada-Nya”.
5. Membaca Al-Qur’an, mengosongkan perut, melakukan sholat malam, beribadah khusu’ pada waktu sahur dan duduk bersama orang-orang sholeh.
Al-Uzdy berkata : “ Aku telah mendengar Ibrohim bin al-Khowwash berkata obat untuk sakit hati itu ada lima macam : Membaca Al-Qur’an dengan merenungkan artinya, mengosongkan perut , melakukan sholat malam, beibadah khusu’ pada waktu sahur dan duduk bersama orang-orang sholeh”.
Referensi :
1. Dzammul Hawa’, Ibnu Qudamah
2. Tazkiyah Nafs, Ibnu Qoyyim-Ibnu Rojab al Hambali, Abi Hamid al Ghozali
Senin, 09 Agustus 2010
Senin, 09 Agustus 2010
- 0 Comments
Bulan Ramadhan telah diambang pintu, mari kita sambut bulan yang penuh berkah dan ampunan ini dengan kegembiraan dalam hati kita, karena pada bulan ini pintu-pintu neraka ditutup dan pintu-pintu surga dibuka bagi kaum muslimin yang mau beramal pada bulan ini. Jangalah kegembiraan dalam menyambut Bulan Ramadhan ini kita ekspresikan dengan acara-acara yang tidak syar’I, banyak ritual-ritual yang temui disekitar kita dalam menyambut bulan ramadhan ini, mulai dari acara punggahan (bahasa jawa), nyadran, hingga acara anak muda zaman sekarang yang sering disebut dengan padusan. Semua acara itu tidak dilaksanakan hanya karena meneruskan tradisi dari pendahulu-pendahulu mereka, tetapi juga didasari dengan keyakinan yang bertentangan dengan syar’i.
Kita sebagai orang muslim handaknya menghindari berbagai ritual-ritual tersebut, dan menggantinya dengan persiapan yang syar’I dalam menyambut Bulan Ramadhan ini, diantara persiapan yang perlu kita lakukan adalah :
1. Persiapan Rohani (Keimanan)
Orang-orang yang saleh biasa melakukan persiapan ini seawal mungkin sebelum datang Ramadhan. Bahkan mereka sudah merindukan kedatangannya sejak bulan Rajab dan Sya'ban. Biasanya mereka berdoa : "Ya Allah, berikanlah kepada kami keberkatan pada bulan Rajab dan Sya'ban, serta sampaikanlah kami kepada Ramadhan."
Dalam rangka persiapan ruh keimanan itu, dalam surah At-Taubah Allah melarang kita melakukan berbagai maksiat dan kedzhaliman sejak bulan Rajab. Tapi bukan berarti di bulan lain dibolehkan. Hal ini dimaksudkan agar sejak bulan Rajab kadar keimanan kita sudah meningkat. Boleh dikiaskan,bulan Rajab dan Sya'ban adalah masa pemanasan (warming up), sehingga ketika memasuki Ramadhan kita sudah bisa menjalani ibadah shaum dan sebagainya itu seperti sudah terbiasa.
2. Persiapan Fisik
Untuk memasuki Ramadhan kita memerlukan fisik yang lebih prima dari biasanya. Sebab, jika fisik lemah, bisa-bisa kemuliaan yang dilimpahkan Allah pada bulan Ramadhan tidak dapat kita raih secara optimal. Maka, sejak bulan Rajab Rasulullah dan para sahabat membiasakan diri melatih fisik dan mental dengan melakukan puasa sunnah, banyak berinteraksi dengan al-Qur'an, biasa bangun malam (qiyamul-lail), dan meningkatkan aktivitas saat berada di masyarakat.
3. Persiapan Harta
Jangan salah faham, persiapan harta bukan untuk membeli keperluan buka puasa atau hidangan lebaran sebagaimana tradisi kita selama ini. Memersiapkan harta adalah untuk melipatgandakan sedekah, karena Ramadhanpun merupakan bulan memperbanyak sedekah. Pahala bersedekah pada bulan ini berlipat ganda dibandingkan bulan-bulan biasa. Rasulullah adalah orang yang dermawan, tetapi kedermawanan Beliau meningkat pada saat bulan ramadhan.
4. Persiapan Ilmu
Agar ibadah Ramadhan bisa optimal, diperlukan bekal wawasan dan tashawur (persepsi) yang benar tentang Ramadhan. Caranya dengan membaca berbagai bahan rujukan dan menghadiri majelis ilmu tentang Ramadhan. Kegiatan ini berguna untuk mengarahkan kita agar beribadah sesuai tuntunan Rasulullah SAW, selama Ramadhan. Menghafal ayat-ayat dan doa-doa yang berkait dengan perlbagai jenis ibadah, atau menguasai berbagai masalah dalam fiqh puasa,
juga penting untuk dipersiapkan.
Semoga persiapan kita mengantarkan ibadah shaum dan berbagai ibadah lainnya, sebagai yang terbaik dalam sejarah Ramadhan yang pernah kita lalui. Karena kita tidak tau barang kali Ramadhan tahun ini adalah bulan Ramadhan yang terakhir bagi kita, Maka mari kita maksimalkan Ibadah kita di bulan yang mulia ini.
Kita sebagai orang muslim handaknya menghindari berbagai ritual-ritual tersebut, dan menggantinya dengan persiapan yang syar’I dalam menyambut Bulan Ramadhan ini, diantara persiapan yang perlu kita lakukan adalah :
1. Persiapan Rohani (Keimanan)
Orang-orang yang saleh biasa melakukan persiapan ini seawal mungkin sebelum datang Ramadhan. Bahkan mereka sudah merindukan kedatangannya sejak bulan Rajab dan Sya'ban. Biasanya mereka berdoa : "Ya Allah, berikanlah kepada kami keberkatan pada bulan Rajab dan Sya'ban, serta sampaikanlah kami kepada Ramadhan."
Dalam rangka persiapan ruh keimanan itu, dalam surah At-Taubah Allah melarang kita melakukan berbagai maksiat dan kedzhaliman sejak bulan Rajab. Tapi bukan berarti di bulan lain dibolehkan. Hal ini dimaksudkan agar sejak bulan Rajab kadar keimanan kita sudah meningkat. Boleh dikiaskan,bulan Rajab dan Sya'ban adalah masa pemanasan (warming up), sehingga ketika memasuki Ramadhan kita sudah bisa menjalani ibadah shaum dan sebagainya itu seperti sudah terbiasa.
2. Persiapan Fisik
Untuk memasuki Ramadhan kita memerlukan fisik yang lebih prima dari biasanya. Sebab, jika fisik lemah, bisa-bisa kemuliaan yang dilimpahkan Allah pada bulan Ramadhan tidak dapat kita raih secara optimal. Maka, sejak bulan Rajab Rasulullah dan para sahabat membiasakan diri melatih fisik dan mental dengan melakukan puasa sunnah, banyak berinteraksi dengan al-Qur'an, biasa bangun malam (qiyamul-lail), dan meningkatkan aktivitas saat berada di masyarakat.
3. Persiapan Harta
Jangan salah faham, persiapan harta bukan untuk membeli keperluan buka puasa atau hidangan lebaran sebagaimana tradisi kita selama ini. Memersiapkan harta adalah untuk melipatgandakan sedekah, karena Ramadhanpun merupakan bulan memperbanyak sedekah. Pahala bersedekah pada bulan ini berlipat ganda dibandingkan bulan-bulan biasa. Rasulullah adalah orang yang dermawan, tetapi kedermawanan Beliau meningkat pada saat bulan ramadhan.
4. Persiapan Ilmu
Agar ibadah Ramadhan bisa optimal, diperlukan bekal wawasan dan tashawur (persepsi) yang benar tentang Ramadhan. Caranya dengan membaca berbagai bahan rujukan dan menghadiri majelis ilmu tentang Ramadhan. Kegiatan ini berguna untuk mengarahkan kita agar beribadah sesuai tuntunan Rasulullah SAW, selama Ramadhan. Menghafal ayat-ayat dan doa-doa yang berkait dengan perlbagai jenis ibadah, atau menguasai berbagai masalah dalam fiqh puasa,
juga penting untuk dipersiapkan.
Semoga persiapan kita mengantarkan ibadah shaum dan berbagai ibadah lainnya, sebagai yang terbaik dalam sejarah Ramadhan yang pernah kita lalui. Karena kita tidak tau barang kali Ramadhan tahun ini adalah bulan Ramadhan yang terakhir bagi kita, Maka mari kita maksimalkan Ibadah kita di bulan yang mulia ini.
Selasa, 01 Juni 2010
Selasa, 01 Juni 2010
- 0 Comments
Didalam Al-Qur’an terdapat tiga ayat yang maknanya hampir sama, dan tercantum pada tiga surat yang berbeda, yakni
Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.(QS. At-Taubah : 33)
Didalam ayat yang lain (QS. Al-Fath : 28) : Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.
Kemudian dalam ayat lain (QS. Ash-Shaaf : 9) Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.
Dari ketiga ayat diatas, Allah menjanjikan kemenangan terhadap Islam. Namun sikap orang kafir dan musyrik tidak suka dengan tegaknya syariat dan kemenangan Islam. Oleh karena itu orang kafir dan musyrik selalu berusaha agar umat Islam terpuruk, kalah dan syariat agamanya tidak dapat terlaksana.
Untuk kepentingan tersebut, berbagai usaha telah dilakukan. Mula-mula mereka menyelewengkan kaum muslimin dari agamanya yang benar, yakni dari Al-Qur’an. Allah berfirman :
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.(QS. Al-Baqarah : 120)
Dalam beberapa tahun terakhir ini kita telah menemukan cara-cara yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani dalam upaya mereka menyelewengkan kaum muslimin dari kitab sucinya (Al-Qur’an), mereka terbukti telah membuat nama surat tandingan dari surat-surat yang terdapat didalam Al-Qur’an asli. Diantara nama-nama surat-surat tandingan itu adalah : Al-Muslimun, Al-Iman, Al-Wasoya, At-Tajassus.
Salah satu contoh surat Al-Muslimun adalah surat palsu sebagai tandingan dari surat ke 109 dari Al-Qur’an, yaitu surat A-Kaafirun. Ayat pertama dari “Qur’an Palsu” surat Al-Muslimun itu berbunyi, “Qul yaa ayyuhal muslimun, innakum lafi dhala lim bai’id” (Katakanlah wahai orang islam, sesungguhnya kalian berada dalam kesesatan yang jauh)
Jika kaum muslimin tidak paham dan tidak pernah membaca Al-Qur’an, kemudian orang kafir datang dan membacakan ayat tersebut, bahwa orang Islam sesat, lantas bagaimanakah tanggapan kita? Itu salah satu bentuk penyesatan yang dilakukan oleh orang-orang kafir.
Bentuk lain dari penyelewengan yang mereka lakukan adalah penyesatan dalam hal aqidah, syari’ah dan akhlaq, sehingga hampir-hampir kaum muslimin tidak mengenal agamanya sendiri (yang benar). Akibatnya, ketika ada seorang ulama menerangkan islam yang benar, maka kaum muslimin-pun mengatakan, “Kok lain ya, tidak sama dengan apa yang kita dengar selama ini.
Maka benarlah apa yang disabdakan Rasulullah, “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing, dan ia akan kembali lagi pada akhirnya menjadi asing yang tidak dikenal. Sungguh bergahagialah orang asing itu”. Para sahabat bertanya, “Siapakah orang-orang asing itu, Yaa Rasulullah?” Rasulullah menjawab orang-orang yang selalu menghidupkan sunnahku ketika manusia rusak semuanya.”
Pertanda dari Rasulullah tersebut, hari ini telah mulai tampak. Ketika kita menerangkan islam yang sebenarnya, maka orang islam sendiri menjadi bingung, bahkan mereka menjadi penentang potensial. Apabila dikatakan, marilah kita tegakkan syari’at islam supaya kehidupan kita selamat dunia dan akhirat, merekapun bingung sembari bertanya, “Ya Ustadz syari’at mana lagi yang akan ditegakkan, bukanlah kita telah sholat, shoum, zakat, haji, mendirikan masjid?”
Dalam hal ini ada kisah menarik diantara orang yang bingung itu adalah Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK). Beliau menghadiri ceramah dimasjid Pondok Indah Jakarta dengan tema “Kewajiban Pemerintah Menerapkan Syari’ah Islam”. Usai shalat Jusuf Kalla mendekati Ustadz yang menerangkan “Keindahan Syari’at Allah” kemudian mendekat dan berkata, Saya senang mendengar ceramah ustadz. Kita memang harus kembali kepada syari’at islam tetapi saya masih bingung, yang mau kita laksanakan syari’at yang mana lagi. Bukankah kita telah mendirikan masjid, Ponpes, Universitas Islam dan sebagainya. Apa itu semua bukan melaksanakan syari’at Islam.
Betul mendirikan masjid, Ponpes, Universitas islam adalah tanggung jawab pemerintah agar bangsa ini menjadi pintar, bukan menjadi bangsa yang bodoh. Adapun yang dimaksud dengan menjalankan syariat Islam adalah pemerintah harus menetapkan secara konstitusional, syariat Islam diberlakukan diberbagai aspek kehidupan.
Kemudian JK bertanya lagi, Apakah yang Ustadz maksud adalah seorang pencuri harus dipotong tangannya? Ustadz itu balik bertanya Apakah Bapak pernah belajar tentang Syariat Islam? “Belum sempat dijawab, beliau pergi (Karena seorang Wapres tentu diburu berbagai kesibukan)
Dalam kisah yang lain Seorang mantan Presiden diundang dalam acara penutupan seminar TPA seluruh Indonesia. Panitia menerangkan, Pak Presiden anak ini baru berusia sembilan tahun, tapi ia telah hafal Al-Qur’an 30 Juz. “Sang Presiden dengan lembut bertanya, kalau begitu berapa Juz lagi yang belum dihafal ?”
Inilah keganjilan-keganjilan yang terjadi pada bangsa ini, sehingga wajar jika Islam tidak dipahami, apalagi diamalkan. Bila tingkat pengetahuan para pemimpin tentang islam hanya seperti itu dan kemudian mereka menolak syariat islam kita pun bertanya, “Ini Salah Siapa?”
Jauhkan Dari Al-Qur’an
Perdana Menteri Inggris pada tahun 1960-an berkata, “Kalau kalian ingin menguasai dunia islam, maka kalian harus memisahkan mereka dari Al-Qur’an. Tetapi kalian tidak akan mampu, sebab setiap orang islam mempunyai Al-Qur’an dirumahnya. Maka pisahkanlah mereka dengan bahasa Al-Qur’an (Bahasa Arab), sehingga ketika mereka membaca Al-Qur’an mereka tidak paham maknanya.
Usaha seperti iu sekarang telah kelihatan hasilnya, ketika sebagian besar kaum muslimin tidak pandai membaca Al-Qur’an. Kalaupun ia pandai membaca Al-Qur’an ia tidak paham maknanya, karena tidak mengerti Bahasa Arab.
Maka menjadi kewajiban seorang muslim untuk memahami islam secara benar, dengan mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an. Rasulullah bersabda “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.(QS. At-Taubah : 33)
Didalam ayat yang lain (QS. Al-Fath : 28) : Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.
Kemudian dalam ayat lain (QS. Ash-Shaaf : 9) Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.
Dari ketiga ayat diatas, Allah menjanjikan kemenangan terhadap Islam. Namun sikap orang kafir dan musyrik tidak suka dengan tegaknya syariat dan kemenangan Islam. Oleh karena itu orang kafir dan musyrik selalu berusaha agar umat Islam terpuruk, kalah dan syariat agamanya tidak dapat terlaksana.
Untuk kepentingan tersebut, berbagai usaha telah dilakukan. Mula-mula mereka menyelewengkan kaum muslimin dari agamanya yang benar, yakni dari Al-Qur’an. Allah berfirman :
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.(QS. Al-Baqarah : 120)
Dalam beberapa tahun terakhir ini kita telah menemukan cara-cara yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani dalam upaya mereka menyelewengkan kaum muslimin dari kitab sucinya (Al-Qur’an), mereka terbukti telah membuat nama surat tandingan dari surat-surat yang terdapat didalam Al-Qur’an asli. Diantara nama-nama surat-surat tandingan itu adalah : Al-Muslimun, Al-Iman, Al-Wasoya, At-Tajassus.
Salah satu contoh surat Al-Muslimun adalah surat palsu sebagai tandingan dari surat ke 109 dari Al-Qur’an, yaitu surat A-Kaafirun. Ayat pertama dari “Qur’an Palsu” surat Al-Muslimun itu berbunyi, “Qul yaa ayyuhal muslimun, innakum lafi dhala lim bai’id” (Katakanlah wahai orang islam, sesungguhnya kalian berada dalam kesesatan yang jauh)
Jika kaum muslimin tidak paham dan tidak pernah membaca Al-Qur’an, kemudian orang kafir datang dan membacakan ayat tersebut, bahwa orang Islam sesat, lantas bagaimanakah tanggapan kita? Itu salah satu bentuk penyesatan yang dilakukan oleh orang-orang kafir.
Bentuk lain dari penyelewengan yang mereka lakukan adalah penyesatan dalam hal aqidah, syari’ah dan akhlaq, sehingga hampir-hampir kaum muslimin tidak mengenal agamanya sendiri (yang benar). Akibatnya, ketika ada seorang ulama menerangkan islam yang benar, maka kaum muslimin-pun mengatakan, “Kok lain ya, tidak sama dengan apa yang kita dengar selama ini.
Maka benarlah apa yang disabdakan Rasulullah, “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing, dan ia akan kembali lagi pada akhirnya menjadi asing yang tidak dikenal. Sungguh bergahagialah orang asing itu”. Para sahabat bertanya, “Siapakah orang-orang asing itu, Yaa Rasulullah?” Rasulullah menjawab orang-orang yang selalu menghidupkan sunnahku ketika manusia rusak semuanya.”
Pertanda dari Rasulullah tersebut, hari ini telah mulai tampak. Ketika kita menerangkan islam yang sebenarnya, maka orang islam sendiri menjadi bingung, bahkan mereka menjadi penentang potensial. Apabila dikatakan, marilah kita tegakkan syari’at islam supaya kehidupan kita selamat dunia dan akhirat, merekapun bingung sembari bertanya, “Ya Ustadz syari’at mana lagi yang akan ditegakkan, bukanlah kita telah sholat, shoum, zakat, haji, mendirikan masjid?”
Dalam hal ini ada kisah menarik diantara orang yang bingung itu adalah Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK). Beliau menghadiri ceramah dimasjid Pondok Indah Jakarta dengan tema “Kewajiban Pemerintah Menerapkan Syari’ah Islam”. Usai shalat Jusuf Kalla mendekati Ustadz yang menerangkan “Keindahan Syari’at Allah” kemudian mendekat dan berkata, Saya senang mendengar ceramah ustadz. Kita memang harus kembali kepada syari’at islam tetapi saya masih bingung, yang mau kita laksanakan syari’at yang mana lagi. Bukankah kita telah mendirikan masjid, Ponpes, Universitas Islam dan sebagainya. Apa itu semua bukan melaksanakan syari’at Islam.
Betul mendirikan masjid, Ponpes, Universitas islam adalah tanggung jawab pemerintah agar bangsa ini menjadi pintar, bukan menjadi bangsa yang bodoh. Adapun yang dimaksud dengan menjalankan syariat Islam adalah pemerintah harus menetapkan secara konstitusional, syariat Islam diberlakukan diberbagai aspek kehidupan.
Kemudian JK bertanya lagi, Apakah yang Ustadz maksud adalah seorang pencuri harus dipotong tangannya? Ustadz itu balik bertanya Apakah Bapak pernah belajar tentang Syariat Islam? “Belum sempat dijawab, beliau pergi (Karena seorang Wapres tentu diburu berbagai kesibukan)
Dalam kisah yang lain Seorang mantan Presiden diundang dalam acara penutupan seminar TPA seluruh Indonesia. Panitia menerangkan, Pak Presiden anak ini baru berusia sembilan tahun, tapi ia telah hafal Al-Qur’an 30 Juz. “Sang Presiden dengan lembut bertanya, kalau begitu berapa Juz lagi yang belum dihafal ?”
Inilah keganjilan-keganjilan yang terjadi pada bangsa ini, sehingga wajar jika Islam tidak dipahami, apalagi diamalkan. Bila tingkat pengetahuan para pemimpin tentang islam hanya seperti itu dan kemudian mereka menolak syariat islam kita pun bertanya, “Ini Salah Siapa?”
Jauhkan Dari Al-Qur’an
Perdana Menteri Inggris pada tahun 1960-an berkata, “Kalau kalian ingin menguasai dunia islam, maka kalian harus memisahkan mereka dari Al-Qur’an. Tetapi kalian tidak akan mampu, sebab setiap orang islam mempunyai Al-Qur’an dirumahnya. Maka pisahkanlah mereka dengan bahasa Al-Qur’an (Bahasa Arab), sehingga ketika mereka membaca Al-Qur’an mereka tidak paham maknanya.
Usaha seperti iu sekarang telah kelihatan hasilnya, ketika sebagian besar kaum muslimin tidak pandai membaca Al-Qur’an. Kalaupun ia pandai membaca Al-Qur’an ia tidak paham maknanya, karena tidak mengerti Bahasa Arab.
Maka menjadi kewajiban seorang muslim untuk memahami islam secara benar, dengan mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an. Rasulullah bersabda “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Langganan:
Postingan (Atom)





