Selasa, 01 Juni 2010
Memahami Islam Dengan Benar
Selasa, 01 Juni 2010 by Dhany Puspito
Didalam Al-Qur’an terdapat tiga ayat yang maknanya hampir sama, dan tercantum pada tiga surat yang berbeda, yakni
Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.(QS. At-Taubah : 33)
Didalam ayat yang lain (QS. Al-Fath : 28) : Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.
Kemudian dalam ayat lain (QS. Ash-Shaaf : 9) Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.
Dari ketiga ayat diatas, Allah menjanjikan kemenangan terhadap Islam. Namun sikap orang kafir dan musyrik tidak suka dengan tegaknya syariat dan kemenangan Islam. Oleh karena itu orang kafir dan musyrik selalu berusaha agar umat Islam terpuruk, kalah dan syariat agamanya tidak dapat terlaksana.
Untuk kepentingan tersebut, berbagai usaha telah dilakukan. Mula-mula mereka menyelewengkan kaum muslimin dari agamanya yang benar, yakni dari Al-Qur’an. Allah berfirman :
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.(QS. Al-Baqarah : 120)
Dalam beberapa tahun terakhir ini kita telah menemukan cara-cara yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani dalam upaya mereka menyelewengkan kaum muslimin dari kitab sucinya (Al-Qur’an), mereka terbukti telah membuat nama surat tandingan dari surat-surat yang terdapat didalam Al-Qur’an asli. Diantara nama-nama surat-surat tandingan itu adalah : Al-Muslimun, Al-Iman, Al-Wasoya, At-Tajassus.
Salah satu contoh surat Al-Muslimun adalah surat palsu sebagai tandingan dari surat ke 109 dari Al-Qur’an, yaitu surat A-Kaafirun. Ayat pertama dari “Qur’an Palsu” surat Al-Muslimun itu berbunyi, “Qul yaa ayyuhal muslimun, innakum lafi dhala lim bai’id” (Katakanlah wahai orang islam, sesungguhnya kalian berada dalam kesesatan yang jauh)
Jika kaum muslimin tidak paham dan tidak pernah membaca Al-Qur’an, kemudian orang kafir datang dan membacakan ayat tersebut, bahwa orang Islam sesat, lantas bagaimanakah tanggapan kita? Itu salah satu bentuk penyesatan yang dilakukan oleh orang-orang kafir.
Bentuk lain dari penyelewengan yang mereka lakukan adalah penyesatan dalam hal aqidah, syari’ah dan akhlaq, sehingga hampir-hampir kaum muslimin tidak mengenal agamanya sendiri (yang benar). Akibatnya, ketika ada seorang ulama menerangkan islam yang benar, maka kaum muslimin-pun mengatakan, “Kok lain ya, tidak sama dengan apa yang kita dengar selama ini.
Maka benarlah apa yang disabdakan Rasulullah, “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing, dan ia akan kembali lagi pada akhirnya menjadi asing yang tidak dikenal. Sungguh bergahagialah orang asing itu”. Para sahabat bertanya, “Siapakah orang-orang asing itu, Yaa Rasulullah?” Rasulullah menjawab orang-orang yang selalu menghidupkan sunnahku ketika manusia rusak semuanya.”
Pertanda dari Rasulullah tersebut, hari ini telah mulai tampak. Ketika kita menerangkan islam yang sebenarnya, maka orang islam sendiri menjadi bingung, bahkan mereka menjadi penentang potensial. Apabila dikatakan, marilah kita tegakkan syari’at islam supaya kehidupan kita selamat dunia dan akhirat, merekapun bingung sembari bertanya, “Ya Ustadz syari’at mana lagi yang akan ditegakkan, bukanlah kita telah sholat, shoum, zakat, haji, mendirikan masjid?”
Dalam hal ini ada kisah menarik diantara orang yang bingung itu adalah Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK). Beliau menghadiri ceramah dimasjid Pondok Indah Jakarta dengan tema “Kewajiban Pemerintah Menerapkan Syari’ah Islam”. Usai shalat Jusuf Kalla mendekati Ustadz yang menerangkan “Keindahan Syari’at Allah” kemudian mendekat dan berkata, Saya senang mendengar ceramah ustadz. Kita memang harus kembali kepada syari’at islam tetapi saya masih bingung, yang mau kita laksanakan syari’at yang mana lagi. Bukankah kita telah mendirikan masjid, Ponpes, Universitas Islam dan sebagainya. Apa itu semua bukan melaksanakan syari’at Islam.
Betul mendirikan masjid, Ponpes, Universitas islam adalah tanggung jawab pemerintah agar bangsa ini menjadi pintar, bukan menjadi bangsa yang bodoh. Adapun yang dimaksud dengan menjalankan syariat Islam adalah pemerintah harus menetapkan secara konstitusional, syariat Islam diberlakukan diberbagai aspek kehidupan.
Kemudian JK bertanya lagi, Apakah yang Ustadz maksud adalah seorang pencuri harus dipotong tangannya? Ustadz itu balik bertanya Apakah Bapak pernah belajar tentang Syariat Islam? “Belum sempat dijawab, beliau pergi (Karena seorang Wapres tentu diburu berbagai kesibukan)
Dalam kisah yang lain Seorang mantan Presiden diundang dalam acara penutupan seminar TPA seluruh Indonesia. Panitia menerangkan, Pak Presiden anak ini baru berusia sembilan tahun, tapi ia telah hafal Al-Qur’an 30 Juz. “Sang Presiden dengan lembut bertanya, kalau begitu berapa Juz lagi yang belum dihafal ?”
Inilah keganjilan-keganjilan yang terjadi pada bangsa ini, sehingga wajar jika Islam tidak dipahami, apalagi diamalkan. Bila tingkat pengetahuan para pemimpin tentang islam hanya seperti itu dan kemudian mereka menolak syariat islam kita pun bertanya, “Ini Salah Siapa?”
Jauhkan Dari Al-Qur’an
Perdana Menteri Inggris pada tahun 1960-an berkata, “Kalau kalian ingin menguasai dunia islam, maka kalian harus memisahkan mereka dari Al-Qur’an. Tetapi kalian tidak akan mampu, sebab setiap orang islam mempunyai Al-Qur’an dirumahnya. Maka pisahkanlah mereka dengan bahasa Al-Qur’an (Bahasa Arab), sehingga ketika mereka membaca Al-Qur’an mereka tidak paham maknanya.
Usaha seperti iu sekarang telah kelihatan hasilnya, ketika sebagian besar kaum muslimin tidak pandai membaca Al-Qur’an. Kalaupun ia pandai membaca Al-Qur’an ia tidak paham maknanya, karena tidak mengerti Bahasa Arab.
Maka menjadi kewajiban seorang muslim untuk memahami islam secara benar, dengan mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an. Rasulullah bersabda “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Tags:
Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.(QS. At-Taubah : 33)
Didalam ayat yang lain (QS. Al-Fath : 28) : Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.
Kemudian dalam ayat lain (QS. Ash-Shaaf : 9) Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.
Dari ketiga ayat diatas, Allah menjanjikan kemenangan terhadap Islam. Namun sikap orang kafir dan musyrik tidak suka dengan tegaknya syariat dan kemenangan Islam. Oleh karena itu orang kafir dan musyrik selalu berusaha agar umat Islam terpuruk, kalah dan syariat agamanya tidak dapat terlaksana.
Untuk kepentingan tersebut, berbagai usaha telah dilakukan. Mula-mula mereka menyelewengkan kaum muslimin dari agamanya yang benar, yakni dari Al-Qur’an. Allah berfirman :
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.(QS. Al-Baqarah : 120)
Dalam beberapa tahun terakhir ini kita telah menemukan cara-cara yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani dalam upaya mereka menyelewengkan kaum muslimin dari kitab sucinya (Al-Qur’an), mereka terbukti telah membuat nama surat tandingan dari surat-surat yang terdapat didalam Al-Qur’an asli. Diantara nama-nama surat-surat tandingan itu adalah : Al-Muslimun, Al-Iman, Al-Wasoya, At-Tajassus.
Salah satu contoh surat Al-Muslimun adalah surat palsu sebagai tandingan dari surat ke 109 dari Al-Qur’an, yaitu surat A-Kaafirun. Ayat pertama dari “Qur’an Palsu” surat Al-Muslimun itu berbunyi, “Qul yaa ayyuhal muslimun, innakum lafi dhala lim bai’id” (Katakanlah wahai orang islam, sesungguhnya kalian berada dalam kesesatan yang jauh)
Jika kaum muslimin tidak paham dan tidak pernah membaca Al-Qur’an, kemudian orang kafir datang dan membacakan ayat tersebut, bahwa orang Islam sesat, lantas bagaimanakah tanggapan kita? Itu salah satu bentuk penyesatan yang dilakukan oleh orang-orang kafir.
Bentuk lain dari penyelewengan yang mereka lakukan adalah penyesatan dalam hal aqidah, syari’ah dan akhlaq, sehingga hampir-hampir kaum muslimin tidak mengenal agamanya sendiri (yang benar). Akibatnya, ketika ada seorang ulama menerangkan islam yang benar, maka kaum muslimin-pun mengatakan, “Kok lain ya, tidak sama dengan apa yang kita dengar selama ini.
Maka benarlah apa yang disabdakan Rasulullah, “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing, dan ia akan kembali lagi pada akhirnya menjadi asing yang tidak dikenal. Sungguh bergahagialah orang asing itu”. Para sahabat bertanya, “Siapakah orang-orang asing itu, Yaa Rasulullah?” Rasulullah menjawab orang-orang yang selalu menghidupkan sunnahku ketika manusia rusak semuanya.”
Pertanda dari Rasulullah tersebut, hari ini telah mulai tampak. Ketika kita menerangkan islam yang sebenarnya, maka orang islam sendiri menjadi bingung, bahkan mereka menjadi penentang potensial. Apabila dikatakan, marilah kita tegakkan syari’at islam supaya kehidupan kita selamat dunia dan akhirat, merekapun bingung sembari bertanya, “Ya Ustadz syari’at mana lagi yang akan ditegakkan, bukanlah kita telah sholat, shoum, zakat, haji, mendirikan masjid?”
Dalam hal ini ada kisah menarik diantara orang yang bingung itu adalah Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK). Beliau menghadiri ceramah dimasjid Pondok Indah Jakarta dengan tema “Kewajiban Pemerintah Menerapkan Syari’ah Islam”. Usai shalat Jusuf Kalla mendekati Ustadz yang menerangkan “Keindahan Syari’at Allah” kemudian mendekat dan berkata, Saya senang mendengar ceramah ustadz. Kita memang harus kembali kepada syari’at islam tetapi saya masih bingung, yang mau kita laksanakan syari’at yang mana lagi. Bukankah kita telah mendirikan masjid, Ponpes, Universitas Islam dan sebagainya. Apa itu semua bukan melaksanakan syari’at Islam.
Betul mendirikan masjid, Ponpes, Universitas islam adalah tanggung jawab pemerintah agar bangsa ini menjadi pintar, bukan menjadi bangsa yang bodoh. Adapun yang dimaksud dengan menjalankan syariat Islam adalah pemerintah harus menetapkan secara konstitusional, syariat Islam diberlakukan diberbagai aspek kehidupan.
Kemudian JK bertanya lagi, Apakah yang Ustadz maksud adalah seorang pencuri harus dipotong tangannya? Ustadz itu balik bertanya Apakah Bapak pernah belajar tentang Syariat Islam? “Belum sempat dijawab, beliau pergi (Karena seorang Wapres tentu diburu berbagai kesibukan)
Dalam kisah yang lain Seorang mantan Presiden diundang dalam acara penutupan seminar TPA seluruh Indonesia. Panitia menerangkan, Pak Presiden anak ini baru berusia sembilan tahun, tapi ia telah hafal Al-Qur’an 30 Juz. “Sang Presiden dengan lembut bertanya, kalau begitu berapa Juz lagi yang belum dihafal ?”
Inilah keganjilan-keganjilan yang terjadi pada bangsa ini, sehingga wajar jika Islam tidak dipahami, apalagi diamalkan. Bila tingkat pengetahuan para pemimpin tentang islam hanya seperti itu dan kemudian mereka menolak syariat islam kita pun bertanya, “Ini Salah Siapa?”
Jauhkan Dari Al-Qur’an
Perdana Menteri Inggris pada tahun 1960-an berkata, “Kalau kalian ingin menguasai dunia islam, maka kalian harus memisahkan mereka dari Al-Qur’an. Tetapi kalian tidak akan mampu, sebab setiap orang islam mempunyai Al-Qur’an dirumahnya. Maka pisahkanlah mereka dengan bahasa Al-Qur’an (Bahasa Arab), sehingga ketika mereka membaca Al-Qur’an mereka tidak paham maknanya.
Usaha seperti iu sekarang telah kelihatan hasilnya, ketika sebagian besar kaum muslimin tidak pandai membaca Al-Qur’an. Kalaupun ia pandai membaca Al-Qur’an ia tidak paham maknanya, karena tidak mengerti Bahasa Arab.
Maka menjadi kewajiban seorang muslim untuk memahami islam secara benar, dengan mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an. Rasulullah bersabda “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 Responses to “Memahami Islam Dengan Benar”
Posting Komentar